Republikita
4 min read288

Tumpeng 17 Agustus Bukan Sekadar Hidangan, Ini 5 Filosofi yang Penuh Makna

JAKARTA – Tumpeng menjadi salah satu hidangan yang kerap hadir dalam berbagai perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. Nasi berbentuk kerucut yang biasanya disajikan bersama beragam lauk ini bukan sekadar makanan untuk dinikmati bersama.

O

OP Admin

Published in Republikita

Loading...
Tumpeng 17 Agustus Bukan Sekadar Hidangan, Ini 5 Filosofi yang Penuh Makna

Di balik bentuk dan tata cara penyajiannya, tumpeng memiliki sejumlah filosofi yang berkaitan dengan kehidupan, rasa syukur, serta hubungan manusia dengan Tuhan.

Tradisi tumpengan juga menjadi bagian dari perayaan kemerdekaan di berbagai tempat, termasuk di Istana Negara. Dalam konteks perayaan HUT Kemerdekaan RI, tumpeng dapat menjadi simbol rasa syukur sekaligus harapan bagi perjalanan bangsa Indonesia.

Berikut sejumlah fakta mengenai tumpeng dan makna yang terkandung di dalamnya.

1. Bentuk Tumpeng Memiliki Filosofi Kehidupan

Bagi masyarakat Jawa, bentuk tumpeng tidak dibuat tanpa alasan.

Nasi yang disusun menyerupai kerucut tersebut melambangkan gunungan, yang memiliki makna berkaitan dengan awal dan akhir kehidupan.

Tumpeng juga menggambarkan hubungan manusia dengan alam dan Tuhan. Filosofi tersebut mencerminkan perjalanan kehidupan manusia yang berasal dari Tuhan dan pada akhirnya kembali kepada Tuhan.

Menurut Ketua Umum Indonesia Gastronomy Community (IGC) Ria Musiawan, istilah tumpeng disebut berasal dari akronim "Yen metu kudu mempeng".

Ungkapan tersebut memiliki makna bahwa manusia harus menjalani kehidupan dengan sungguh-sungguh, termasuk dalam menjaga hubungan dengan Tuhan.

2. Bagian Puncak Melambangkan Gunung

Bentuk kerucut pada bagian atas tumpeng juga memiliki makna tersendiri.

Puncak tumpeng dipercaya melambangkan puncak gunung, yang dalam kepercayaan tradisional dikaitkan dengan tempat bersemayamnya dewa dan arwah leluhur.

Bentuknya yang mengarah ke atas juga menjadi simbol hubungan manusia dengan Tuhan.

Karena makna tersebut, tumpeng sering digunakan dalam berbagai acara sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus doa dan harapan.

Dalam perayaan kemerdekaan di Istana Negara, keberadaan tumpeng menjadi simbol rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia.

Prosesi pemotongan tumpeng oleh presiden juga memiliki makna simbolis yang menggambarkan hubungan antara Tuhan, pemerintah, dan rakyat.

3. Tumpengan Menjadi Momen Berkumpulnya Tokoh Bangsa

Tradisi tumpengan di Istana Negara juga memiliki sisi lain yang menarik.

Momen tersebut tidak hanya melibatkan presiden dan wakil presiden yang sedang menjabat. Sejumlah mantan presiden dan wakil presiden juga pernah hadir dalam kegiatan tersebut.

Sejak 17 Agustus 2018, Presiden Joko Widodo disebut selalu ditemani sejumlah tokoh ketika melakukan prosesi pemotongan tumpeng.

Beberapa tokoh yang pernah hadir antara lain B.J. Habibie, Sinta Nuriyah Wahid, dan Try Sutrisno.

Para veteran juga kerap diundang dalam acara tumpengan untuk makan bersama.

Kehadiran mereka menjadi bentuk penghormatan kepada para tokoh yang memiliki peran dalam perjalanan bangsa sekaligus menjadi ungkapan rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia.

4. Ada Prosesi Khusus Sebelum Tumpeng Dipotong

Tradisi tumpeng di Istana Negara biasanya dilakukan setelah rangkaian upacara peringatan kemerdekaan.

Tumpeng telah disiapkan sejak pagi di ruangan khusus sebelum prosesi berlangsung.

Setelah upacara detik-detik Proklamasi selesai, presiden dan para tamu undangan menuju tempat tumpeng disiapkan.

Mereka kemudian berkumpul dan berdoa bersama.

Setelah presiden menyampaikan sambutan serta harapan bagi Indonesia, prosesi tumpeng dilanjutkan.

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa tumpeng dalam perayaan kemerdekaan tidak hanya ditempatkan sebagai hidangan, tetapi juga menjadi bagian dari ritual simbolis yang mengandung doa dan rasa syukur.

5. Tumpeng Ternyata Tidak Semestinya Dipotong dari Pucuk

Salah satu hal yang mungkin belum diketahui banyak orang berkaitan dengan cara membagikan tumpeng.

Selama ini, masyarakat sering melihat tumpeng dibagikan dengan cara memotong bagian pucuknya.

Namun, dalam tradisi Jawa, cara tersebut dianggap kurang tepat.

Tumpeng sebenarnya tidak dianjurkan untuk dipotong pada bagian puncaknya. Cara membagikannya dilakukan dengan menggali nasi dari bagian bawah hingga bentuk tumpeng akhirnya roboh.

Hal tersebut berkaitan dengan filosofi bagian puncak tumpeng yang dianggap sebagai simbol tempat bersemayamnya Sang Pencipta.

Karena itu, memotong bagian pucuk tumpeng dimaknai seperti memutus hubungan manusia dengan Tuhan.

Tumpeng Menjadi Simbol Rasa Syukur Kemerdekaan

Keberadaan tumpeng dalam perayaan 17 Agustus menunjukkan bagaimana makanan tradisional dapat menjadi bagian dari identitas dan tradisi masyarakat Indonesia.

Bentuknya memiliki filosofi, proses penyajiannya memiliki tata cara, sementara kegiatan makan bersama dapat menjadi sarana mempererat hubungan antarmasyarakat.

Dalam perayaan kemerdekaan, tumpeng juga membawa pesan tentang rasa syukur terhadap kemerdekaan yang telah diperoleh bangsa Indonesia.

Nilai tersebut membuat tumpeng tidak hanya dipandang sebagai hidangan, tetapi juga sebagai simbol kebersamaan dan harapan untuk masa depan.

Tradisi yang Tetap Relevan di Era Modern

Perayaan 17 Agustus terus mengalami perkembangan dari waktu ke waktu.

Namun, tradisi seperti tumpengan masih bertahan karena memiliki nilai budaya yang kuat.

Tumpeng dapat hadir dalam acara sederhana di lingkungan masyarakat hingga perayaan kenegaraan.

Di balik kegiatan makan bersama tersebut terdapat pesan mengenai rasa syukur, hubungan manusia dengan Tuhan, penghormatan terhadap perjalanan bangsa, serta pentingnya kebersamaan.

Karena itu, tumpeng tetap menjadi salah satu hidangan yang identik dengan berbagai perayaan penting di Indonesia, termasuk momentum Hari Kemerdekaan setiap 17 Agustus.

Login to react

Comments (0)

Please log in to leave a comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!