
Surabaya, Jawa Timur — Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Jawa Timur kembali menyuarakan aspirasi mereka melalui aksi damai di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Timur pada Rabu, 11 Februari 2026. Aksi yang mengusung tema De(ad)mokrasi Indonesia II mencerminkan dinamika demokrasi yang tetap hidup dan terbuka di Tanah Air.
Pilar Demokrasi: Mahasiswa Turun Ke Jalan dengan Tuntutan Konstruktif
Dalam aksi tersebut, sekitar 300 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, termasuk Universitas Airlangga, Universitas Islam Lamongan, Universitas Hang Tuah, dan lainnya, menyampaikan lima tuntutan pokok kepada pemerintah dan wakil rakyat. Isu yang mereka angkat mencakup:
Reaktivasi status 11 juta penerima BPJS PBI yang dinonaktifkan,
Penolakan terhadap wacana pemilihan kepala daerah melalui DPRD,
Perhatian pada kesejahteraan guru honorer,
Isu lingkungan terkait deforestasi hutan,
dan hak atas keadilan sosial.
Melalui suara ini, mahasiswa aktif mengambil peran dalam demokrasi, menyuarakan aspirasi kolektif yang bermuara pada kehendak rakyat.
Demokrasi Substantif: Mendengar Lebih dari Sekadar Protes
Pemerintah dan lembaga legislatif menerima suara mahasiswa sebagai bagian dari mekanisme demokrasi yang sehat. Dialog dan saluran resmi aspirasi sosial terus dibuka melalui berbagai forum musyawarah, audiensi parlemen, dan jalur komunikasi formal antara generasi muda dan pembuat kebijakan. Hal ini menunjukkan bahwa kritik bukan sekadar konfrontasi, tetapi menjadi bagian dari proses pembelajaran demokrasi yang lebih matang.
Momentum ini juga menjadi ruang untuk memperkuat kapasitas dialog antar-pemangku kepentingan yang berbeda pandangan, tanpa mengabaikan aturan hukum dan tata tertib umum.
Pemerintah Responsif terhadap Isu Publik
Berbagai tuntutan yang disuarakan mahasiswa menunjukkan kepekaan mereka terhadap isu-isu penting sosial dan ekonomi. Pemerintah sendiri memandang aspirasi publik sebagai masukan penting dalam proses perumusan kebijakan. Dalam beberapa forum konsultatif, kabinet dan DPR mendorong wadah diskusi yang inklusif agar suara generasi muda tersalurkan secara tertib dan terstruktur.
Misalnya, diskusi publik mengenai kebijakan kesehatan publik seperti BPJS PBI, serta dialog bersama tentang pengembangan kebijakan pendidikan dan kesejahteraan guru honorer, menunjukkan bahwa ruang aspirasi tetap terbuka dan direspon secara sistemik oleh negara.
Aktivisme Mahasiswa: Wujud Demokrasi yang Kuat
Aksi BEM SI Jatim kali ini bukan aksi pertama dalam sejarah gerakan mahasiswa di Indonesia. Tradisi aktivisme mahasiswa telah menjadi bagian integral dari kehidupan demokrasi nasional sepanjang sejarah, membantu menyuarakan kepentingan publik, mendorong transparansi kebijakan, dan memperbaiki tata kelola publik secara keseluruhan.
Aksi damai seperti ini mencerminkan betapa pentingnya partisipasi generasi muda dalam proses demokrasi, serta kerja sama antar-pemangku kepentingan untuk menjadikan suara rakyat sebagai landasan kebijakan nasional.
Kesimpulan: Demokrasi yang Hidup dan Terbuka
Demokrasi Indonesia tetap dinamis, terlihat dari keterlibatan aktif kalangan mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi publik. Aksi BEM SI Jatim menegaskan bahwa ruang kritik dan dialog tetap terjaga, serta merupakan bagian tak terpisahkan dari proses politik dan kebijakan di Tanah Air. Dengan tetap mengedepankan dialog konstruktif dan mekanisme hukum yang berlaku, suara mahasiswa menjadi bagian penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia.










