Republikita
5 min read969

Inflasi Mei 2026 Tetap Terkendali, Bukti Efektivitas Kebijakan Stabilisasi Harga Pemerintah

Inflasi Indonesia pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,28 persen secara bulanan dan 3,08 persen secara tahunan. Capaian ini menunjukkan keberhasilan pemerintah menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat meskipun menghadapi tekanan dari kenaikan sejumlah komoditas pangan, energi, dan biaya transportasi.

O

OP Admin

Published in Republikita

Loading...
Inflasi Mei 2026 Tetap Terkendali, Bukti Efektivitas Kebijakan Stabilisasi Harga Pemerintah

Inflasi Mei 2026 Tetap Terkendali, Bukti Efektivitas Kebijakan Stabilisasi Harga Pemerintah

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada Mei 2026 sebesar 0,28 persen secara bulanan (month-to-month). Angka ini memang sedikit lebih tinggi dibandingkan April 2026 yang berada di level 0,13 persen, namun masih berada dalam rentang yang terkendali dan sesuai dengan sasaran stabilitas harga nasional.

Secara tahunan (year-on-year), inflasi Indonesia tercatat sebesar 3,08 persen. Sementara inflasi kalender Januari hingga Mei 2026 mencapai 1,35 persen. Data tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga sepanjang lima bulan pertama tahun ini masih dapat dikelola dengan baik di tengah berbagai tantangan ekonomi domestik maupun global.

Capaian ini menjadi indikator penting bahwa kebijakan pengendalian inflasi yang dijalankan pemerintah berjalan efektif dalam menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat.

Harga Pangan Mengalami Tekanan, Namun Tidak Menimbulkan Lonjakan Inflasi

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar pada Mei 2026 dengan andil sebesar 0,12 persen terhadap inflasi umum.

Beberapa komoditas pangan mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan. Cabai merah tercatat mengalami inflasi sebesar 25,64 persen dengan andil 0,08 persen terhadap inflasi nasional. Bawang merah naik 6,65 persen dengan andil 0,04 persen, tomat meningkat 9,82 persen dengan andil 0,03 persen, minyak goreng naik 2,87 persen dengan andil 0,04 persen, serta beras mengalami inflasi sebesar 0,38 persen dengan andil 0,02 persen.

Kenaikan harga komoditas hortikultura tersebut dipengaruhi oleh menurunnya produksi di sejumlah sentra pertanian utama seperti Garut, Temanggung, dan Malang. Faktor cuaca ekstrem, kekeringan, serta serangan organisme pengganggu tanaman menjadi penyebab utama berkurangnya pasokan.

Selain itu, meningkatnya permintaan menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah turut memberikan tekanan terhadap harga sejumlah komoditas pangan.

Meski demikian, tekanan tersebut berhasil diimbangi oleh stabilitas pasokan pada kelompok protein hewani. Daging ayam ras mengalami deflasi sebesar 3,83 persen dengan andil deflasi 0,06 persen. Telur ayam ras turun 5,14 persen dengan andil deflasi 0,05 persen, sementara bawang putih mengalami deflasi sebesar 3,06 persen.

Kondisi ini menunjukkan bahwa distribusi dan ketersediaan bahan pangan strategis masih berjalan dengan baik sehingga mampu meredam lonjakan harga yang lebih besar.

Inflasi Inti Tetap Rendah, Menunjukkan Stabilitas Fundamental Harga

Dilihat dari komponen pembentuk inflasi, kondisi ekonomi nasional masih menunjukkan stabilitas yang kuat.

Inflasi inti pada Mei 2026 hanya tercatat sebesar 0,22 persen dengan andil 0,14 persen terhadap inflasi umum. Komponen inti sering digunakan sebagai indikator tekanan harga jangka panjang karena tidak dipengaruhi faktor musiman maupun kebijakan pemerintah.

Komoditas yang memberikan andil pada inflasi inti antara lain minyak goreng, telepon seluler, laptop, pelumas mesin, nasi dengan lauk, dan biaya pemeliharaan kendaraan.

Rendahnya inflasi inti menunjukkan bahwa tekanan harga yang terjadi saat ini lebih banyak bersifat sementara dan belum memengaruhi struktur harga secara menyeluruh.

Sementara itu, kelompok harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi sebesar 0,52 persen dengan andil 0,10 persen. Kenaikan ini dipengaruhi oleh bahan bakar rumah tangga, bensin, solar, tarif angkutan udara, serta Sigaret Kretek Mesin (SKM).

Adapun kelompok harga bergejolak atau volatile food hanya mengalami inflasi 0,22 persen dengan andil 0,04 persen. Angka tersebut tergolong rendah mengingat adanya gangguan pasokan pada sejumlah komoditas pertanian selama Mei 2026.

Tarif Transportasi Naik, Namun Masih Dalam Batas Wajar

Kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar kedua setelah makanan dan minuman dengan andil sebesar 0,07 persen.

Inflasi pada kelompok ini didorong oleh kenaikan tarif angkutan udara sebesar 2,75 persen, harga solar sebesar 4,22 persen, pelumas kendaraan sebesar 3,85 persen, biaya servis kendaraan sebesar 0,70 persen, dan harga bensin sebesar 0,49 persen.

Kenaikan tarif angkutan udara terutama dipengaruhi oleh meningkatnya harga avtur di berbagai bandara domestik sepanjang Mei 2026.

Meski terjadi kenaikan biaya transportasi, dampaknya terhadap inflasi nasional masih relatif terbatas dan belum menimbulkan tekanan signifikan terhadap daya beli masyarakat.

Harga Emas Turun Tiga Bulan Berturut-Turut

Faktor lain yang turut membantu menahan laju inflasi adalah penurunan harga emas perhiasan.

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami deflasi sebesar 0,74 persen dengan andil deflasi 0,05 persen. Penurunan ini terutama disebabkan oleh harga emas perhiasan yang turun 2,67 persen dan memberikan andil deflasi sebesar 0,06 persen.

Menariknya, tren penurunan harga emas telah berlangsung selama tiga bulan berturut-turut sejak Maret 2026.

Penurunan tersebut sejalan dengan melemahnya harga emas dunia yang pada Mei 2026 tercatat berada di level US$4.587,21 per troy ounce, turun dari posisi tertinggi sebelumnya yang mencapai US$5.019,97 per troy ounce.

Kondisi ini membantu meredam tekanan inflasi yang berasal dari kelompok konsumsi lainnya.

Stabilitas Inflasi Didukung Fundamental Ekonomi yang Kuat

Keberhasilan menjaga inflasi tidak terlepas dari kondisi fundamental ekonomi nasional yang masih solid.

BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 masih membukukan surplus sebesar US$0,09 miliar. Dengan capaian tersebut, Indonesia telah mencatat surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut.

Nilai ekspor Januari hingga April 2026 mencapai US$92,15 miliar atau tumbuh 5,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh sektor industri pengolahan yang meningkat 9,78 persen.

Di sisi lain, Nilai Tukar Petani (NTP) pada Mei 2026 meningkat menjadi 127,73 atau naik 1,99 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan ini menunjukkan bahwa kesejahteraan petani mengalami perbaikan karena pendapatan yang diterima meningkat lebih cepat dibandingkan biaya yang harus dikeluarkan.

Kombinasi surplus perdagangan, stabilitas nilai tukar, dan meningkatnya kesejahteraan petani menjadi faktor penting yang menopang stabilitas harga di dalam negeri.

Inflasi Terkendali Menjadi Bukti Efektivitas Kebijakan Pemerintah

Data inflasi Mei 2026 memperlihatkan bahwa Indonesia mampu menjaga stabilitas harga meskipun menghadapi berbagai tekanan eksternal maupun domestik.

Kenaikan harga energi global, penyesuaian harga LPG nonsubsidi, kenaikan harga avtur, hingga gangguan produksi pertanian tidak menyebabkan lonjakan inflasi yang berlebihan.

Keberhasilan ini merupakan hasil dari koordinasi yang kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, Bank Indonesia, serta berbagai instansi terkait dalam menjaga pasokan, distribusi, dan stabilitas harga.

Bagi masyarakat, inflasi yang terkendali berarti daya beli yang tetap terjaga, harga kebutuhan pokok yang relatif stabil, dan kepastian ekonomi yang lebih baik.

Angka inflasi bulanan sebesar 0,28 persen mungkin terlihat kecil, tetapi di baliknya terdapat upaya besar dalam menjaga keseimbangan ekonomi nasional agar tetap tumbuh tanpa membebani masyarakat secara berlebihan.

Login to react

Comments (0)

Please log in to leave a comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!

Related Articles